Dalam beberapa musim terakhir, Red Bull Racing selalu terlihat seperti tim yang paling utuh di Formula 1. Bukan cuma cepat di lintasan, tetapi juga punya struktur internal yang terasa rapi: teknis kuat, strategi tajam, operasi balap efisien, dan kepemimpinan yang stabil.
Namun dalam dua musim terakhir, gambaran itu mulai berubah. Satu per satu sosok penting yang ikut membangun era dominasi Red Bull mulai pergi. Adrian Newey hengkang setelah hampir dua dekade. Jonathan Wheatley meninggalkan tim. Will Courtenay juga pindah. Christian Horner tak lagi memimpin. Helmut Marko pun sudah mengakhiri perannya, sementara Craig Skinner ikut keluar dari struktur teknis tim. Bahkan Gianpiero Lambiase, sosok yang sangat dekat dengan Max Verstappen, sudah dipastikan akan pergi pada 2028.
Itulah mengapa muncul anggapan bahwa Red Bull sedang kehilangan “dream team”-nya. Dan sejujurnya, anggapan itu tidak sepenuhnya salah.
Red Bull Bukan Kehilangan Satu Orang, Tapi Kehilangan Banyak Pilar Sekaligus
Masalah terbesar Red Bull bukan semata karena satu nama besar pergi. Tim sebesar Red Bull masih bisa bertahan jika hanya kehilangan satu figur penting. Yang membuat situasi ini terasa serius adalah karena yang pergi datang dari banyak area berbeda sekaligus.
Newey adalah simbol arah teknis dan insting desain. Wheatley identik dengan pengelolaan sisi sporting dan eksekusi akhir pekan balap. Courtenay adalah bagian penting dari memori strategi tim. Horner selama 20 tahun menjadi sosok sentral yang menghubungkan banyak bagian organisasi. Marko punya pengaruh besar dalam jalur pembinaan pembalap Red Bull. Skinner memberi kesinambungan teknis, sementara Lambiase adalah bagian dari inti operasional Verstappen di lintasan.
Jadi, ini bukan cerita tentang satu lubang besar. Ini cerita tentang beberapa lubang yang muncul bersamaan.
Kenapa Red Bull Bisa Kehilangan Banyak Orang dalam Waktu Singkat?
Ada beberapa alasan yang membuat eksodus ini masuk akal.
Pertama, karena Red Bull terlalu sukses untuk tidak dibajak. Saat sebuah tim mendominasi, rival akan datang bukan hanya untuk membeli pembalap, tetapi juga membeli orang-orang yang tahu bagaimana cara menang. Jonathan Wheatley direkrut untuk naik level menjadi Team Principal Audi, sementara McLaren membawa pergi Will Courtenay untuk memperkuat struktur sporting mereka.
Kedua, beberapa sosok memang tampak sudah memasuki akhir siklus mereka di Red Bull. Dalam kasus Newey misalnya, kepergiannya lebih terasa seperti penutup sebuah era daripada kepanikan mendadak. Ia pergi setelah masa panjang yang sangat sukses, bukan setelah kegagalan singkat.
Ketiga, situasi internal Red Bull jelas tidak sestabil dulu. Perubahan di level pimpinan, restrukturisasi, dan tantangan memasuki era regulasi 2026 membuat tim ini tidak lagi terlihat “tak tergoyahkan” seperti sebelumnya. Laurent Mekies sendiri mengakui Red Bull harus menghadapi tantangan besar di 2026, termasuk fakta bahwa mereka telat sepenuhnya beralih fokus dan kini harus membangun power unit sendiri di bawah regulasi baru.
Apakah Ini Berarti Red Bull Sudah Habis?
Belum tentu.
Kalimat “Red Bull kehilangan dream team” memang terdengar kuat, tetapi itu tidak otomatis berarti tim ini runtuh. Red Bull masih punya banyak orang penting di dalam struktur mereka. Pierre Waché tetap memimpin sisi teknis, dan tim juga tidak membiarkan semua posisi kosong terlalu lama.
Yang lebih tepat adalah: Red Bull sedang kehilangan inti lama dari era dominasi mereka, dan sekarang mereka sedang mencoba membangun generasi kedua.
Ini fase yang sangat penting. Tim-tim besar di F1 tidak selalu jatuh karena mobil langsung menjadi buruk. Kadang mereka mulai goyah karena chemistry internal yang dulu sangat kuat sudah tidak utuh lagi.
Langkah Red Bull: Stabilkan Internal Dulu, Bukan Panik Cari “Penyelamat”
Sejauh ini, respons Red Bull lebih mengarah ke stabilisasi internal daripada langsung belanja besar-besaran dari luar.
Setelah Christian Horner pergi, Red Bull menunjuk Laurent Mekies sebagai CEO dan Team Principal. Setelah Jonathan Wheatley hengkang, Red Bull melakukan restrukturisasi dengan mengangkat Gianpiero Lambiase sebagai Head of Racing. Untuk posisi Craig Skinner, laporan F1 menyebut tugasnya ditangani secara internal untuk sementara. Artinya, pola yang terlihat sejauh ini adalah promosi dari dalam dan pembagian ulang tanggung jawab, bukan mencari satu nama besar untuk menggantikan semua yang hilang.
Pendekatan ini masuk akal. Mengganti figur seperti Newey, Horner, atau Marko secara satu banding satu memang hampir mustahil. Yang bisa dilakukan Red Bull adalah menjaga agar sistem tetap bekerja, sambil membangun struktur baru sedikit demi sedikit.
Apakah Red Bull Akan Merekrut Orang dari Luar?
Kemungkinan besar iya, tetapi mungkin bukan dalam bentuk “mega hiring” yang langsung diumumkan ke publik.
Ada tanda bahwa Red Bull sedang membuka jalur rekrutmen yang lebih luas. Mereka menggandeng Indeed sebagai Recruitment Partner mulai musim 2026, dan juga terus menjalankan Red Bull Engineering Academy untuk memasok talenta baru, khususnya ke area Red Bull Powertrains. Itu menunjukkan bahwa Red Bull sadar mereka tidak bisa hanya mengandalkan rotasi internal antara Red Bull dan Racing Bulls untuk selamanya.
Namun hingga sekarang, perbaikan paling terlihat tetap datang dari dalam: promosi, restrukturisasi, dan penyesuaian organisasi. Jadi kalau pun akan ada perekrutan besar dari luar, kemungkinan itu lebih bersifat bertahap dan terukur, bukan gerakan panik.
Titik Balik Red Bull Ada di Sini
Musim-musim ke depan akan menentukan apakah Red Bull benar-benar mampu melewati masa transisi ini. Tantangannya bukan cuma mencari pengganti nama-nama besar, tetapi juga membangun ulang kombinasi kerja yang dulu membuat mereka nyaris selalu selangkah di depan rival.
Karena pada akhirnya, dominasi di Formula 1 tidak lahir dari satu orang saja. Ia lahir dari banyak orang hebat yang bekerja sinkron dalam waktu lama.
Dan itulah yang kini sedang diuji di Red Bull.













